Bangkok

Alhamdulillah, bisa jalan-jalan lagi. Kali ini ke Bangkok, Thailand. Berangkat dari bandara Sepinggan, Balikpapan. Rute yang kami tempuh adalah Balikpapan – Kuala Lumpur – Bangkok.

Untuk menghindari delay di Kuala Lumpur, kami menginap 1 hari di KL. Lumayan bisa istirahat setelah penerbangan selama kurang lebih 3 jam (sama dengan ke Jakarta, dengan biaya lebih murah). Dengan cara ini, Kuala Lumpur menggeser tujuan transit penerbangan dari Balikpapan ke luar negeri yang biasanya melalui Jakarta dan Singapura. Saya rasa mereka melihat peluang dengan banyaknya cabang perusahaan asing di Balikpapan, otomatis banyak tamu/tenaga ahli yang mondar-mandir ke kota ini.

Sampai di bandara LCCT-KL, tidak lupa kami kembali mengambil peta di bagian informasi. Masih banyak yg belum kami jelajahi disini, dan rencananya kami jelajahi satu per satu. Berhubung setiap penerbangan ke LN arah Utara melewati kota ini, kami masih banyak waktu. Jadi tidak terburu-buru. :-)

Yang penting kami catat disini adalah, keragaman antar bangsa. Disini warna kulit sama banyak dan berbaur. Baru di kota ini kami merasa sebagai penduduk dunia.

Weks...

Bukit Bintang

Stasiun Subway Kelana Jaya (kereta bawah tanah)

Pada persinggahan kali ini, kami mencoba kereta bawah tanah milik Kuala Lumpur. Kami cukup terkejut, kami pikir cuma ada Sky Train monorail yg menggunakan jalur semacam jalan layang di atas permukaan tanah. Ternyata mereka juga punya yang bawah tanah. Lagi-lagi keretanya bersih jika tidak bisa dibilang baru. Halte antar stasiun pun cukup besar dan bersih.

Twin Tower/Menara Petronas, KL

My Family

Eskalator lurus...

Suvarnabhumi Airport

Tuk Tuk, angkutan rakyat di Bangkok

Keesokan harinya kami berangkat ke Bangkok. Lama perjalanan sekitar 2 jam. Cukup melelahkan karena rasa penat yang kemarin belum hilang seluruhnya. Kami mendarat di bandara Suvarnabhumi Airport. Cukup besar dan konstruksinya terlihat kokoh. Dan tips lagi buat para pembaca, jangan lupa mencari peta Bangkok di bagian informasi. Karena tanpa peta, bisa kacau acara jalan-jalan kita… :-)

Sayangnya saya lupa bawa kompas, akhirnya disaat bingung berjalan kaki, peta kurang membantu karena tidak tahu dimana arah posisi kita berada di dalam peta. Peta cukup membantu ketika ingin menggunakan transportasi umum seperti kereta dan letak-letak tempat yang akan di kunjungi. Selebihnya, naik taksi dan berbahasa Inggris tarzan… :-P

di halaman Grand Palace

Stasiun BTS

Siam Paragon

Sama dengan Kuala Lumpur, transportasi di kota ini cukup maju. Tersedia kereta yang bagus dan bersih dengan jalur diatas jalan-jalan umum dan di bawah tanah. Hanya saja ukuran haltenya lebih besar dan keretanya lebih panjang. Semoga di Indonesia cepat ada kereta model seperti ini supaya kita tidak terlalu ketinggalan.

Selebihnya, mirip-mirip saja dengan di Indonesia. Jalan-jalan kali ini cukup membuka wawasan tentang negeri tetangga. Nantikan kisah perjalanan kami berikutnya,… :-)

Jalan Sukhumvit 13

The Grand Palace

long way to wat arun

MBK, Bangkok

Suvarnabhumi airport

Next Destination... :-)

Demikian kisah kami sewaktu liburan ke Bangkok. Mudah-mudahan nanti ada rejeki lagi untuk jalan-jalan melihat negara orang. Nantikan kisah kami selanjutnya ya… :-)

Penulis

Ditulis pada Uncategorized | Tinggalkan Komentar

Kuala Lumpur

Alhamdulillah, dapat rejeki lagi untuk jalan-jalan. Kali ini ke Kuala Lumpur, Malaysia. Kami memanfaatkan tiket murah dari Air Asia. Air Asia memang mantap, dengan bandara LCCT dan pesawat-pesawat yang lebih bagus dan baru.

Low Cost Carrier Terminal (LCCT)

Kami berangkat dari bandara Sepinggan, Balikpapan. Sekitar jam 14.00 pesawat take off.

Kami beli tiket secara online di http://www.airasia.com 2 bulan sebelumnya. Kami dapat harga Rp. 95.000,- per orang. Murah bukan?… Lebih murah dari pada ke Jakarta. Memang harus di perhitungkan biaya lain-lain di sana seperti transportasi, penginapan, makan, dll. Tapi tetep saja kurang lebih sama dengan jalan-jalan di Indonesia. Dengan cara ini, Malaysia menjadi lebih terbuka untuk masyarakat internasional.

Bukit Bintang dari gerbong Monorail.

Pun selama disana, saya baru tau, kalau ini adalah kota internasional. Berbagai suku bangsa ada disini. Berbagai warna kulit. Jumlahnya mungkin sama banyak, antara orang India, China, Jepang, Melayu, Afrika, Arab, Bule Barat. Kalau di gerbong monorail, merata. Dengan warna kulit dan bahasa yang berbeda.

Dari LCCT, kami menuju KL Sentral. Kalau di Jakarta, Blok M. Pusat semua transportasi di Kuala Lumpur. Kami naik Sky Bus, milik Air Asia. Beli tiketnya include waktu beli tiket pesawatnya online. Bisa juga beli di kounter Sky Bus. Harga tiket: 9RM/orang.

Dari KL Sentral, kami menuju penginapan di Bukit Bintang menggunakan Monorail. KL Sentral-Bukit Bintang = 2,10 RM. Sekitar Rp. 6.000 lah kalau di Indonesia. Sampai Bukit Bintang, kami makan dulu. Laper. Ternyata tidak ada tempat makan yang menyediakan nasi putih. Di KFC pun tersedia hanya nasi lemak, alias nasi uduk. Harga, mirip dengan di Indonesia.

Bukit Bintang

Lanjut ke hotel. Taruh tas, mandi, istirahat sebentar, lalu jalan lagi.

Bukit bintang mirip dengan jalan Malioboro di Jogjakarta, atau jalan Legian di Denpasar.

Dari ujung jalan terlihat puncak menara Petronas. Kami pun menuju kesana. Cukup jauh kalau berjalan kaki. Capek sekali rasanya, hanya berpatokan ujung menara kami cari jalan menuju kesana.

Sampai disana, saya kagum. Bangunannya seperti terbuat dari logam. Lampu-lampunya terus menyala, mungkin sepanjang malam.Saya kesulitan mencari spot foto supaya seluruh bangunan menara terlihat. Akhirnya cuma bisa foto dari bawah ke atas. Jalan keseberang jalan pun tak nampak keseluruhan di kamera. Kameranya kamera saku sih… :-)

Menara Kembar Petronas

Rata-rata toko disini tertulis buka 24 jam. Bahkan layar besar di jalan Bukit Bintang shut down jam 7 pagi. Anak muda tidur di emperan toko setelah begadang semalaman di situ. Mungkin cuma malam minggu. Tapi malam sebelumnya saya tengok ke bawah dari jendela hotel juga masih ramai sampai subuh.

Setelah capek mencari titik spot tak kunjung ketemu, kami pun berniat pulang ke hotel. Tapi kaki sudah mau lepas, capek minta ampun. Terpaksa naik taksi. 7 RM ke Bukit Bintang. Pantes kata orang kalau lebih dari 3 orang, mending naik taksi dari pada naik monorail.

Kami pulang ke hotel, istirahat, supaya besok bisa bangun pagi-pagi. Rencana kami mau ke Genting Highland. Dengar-dengar mirip Ancol, tapi di area puncak gunung.

Petunjuk Arah

Kami bangun jam 6 pagi. Masih gelap. Macam jam 5 kalau di Balikpapan.  Jam 7 baru sama dengan jam 6. Tapi jamnya sama dengan Balikpapan, alias tidak ada perbedaan waktu.

Kami berangkat menuju halte monorail. Monorail ini kalau di Jakarta sama dengan Trans Jakarta, sama-sama transportasi umum utama. Tidak macet, dan tidak awut-awutan. Lewat atas jadi tambah cepat karena potong jalan. Halte dan keretanya bersih. Tangga naik pakai eskalator jadi gak capek. Jarang satpam or polisi, tandanya aman dan disiplin. Meski gitu, masih ada tanda peringatan ‘Awas Copet’ dalam bahasa malaysia. Nunggu keretanya tidak lama, mungkin cuma 5 menit sekali ada kereta datang.

Tepat jam 06.00 kereta berangkat. Alias on Time. Tadi di bawah juga beli tiket tertib. Murah cuma 2,10 RM ke KL Sentral dari Bukit Bintang. Cuma ada 1 satpam. Tugasnya mungkin cuma ngajarkan cara pakai kartu buat yang katrok kayak saya.. :-P

Kereta Monorail

Sampai KL Sentral kami sarapan dulu di Warung India Muslim. Saya lihat ada orang india makan nasi pakai telur ceplok dan teh panas. Saya pesen yang sama, pelayannya wajah India.

Saya: Pesen Nasi pakai telur dua, minumnya teh panas dua!.

Pelayan: Dua? Okay…

Makanan pertama datang: Nasi Goreng dan teh tarik.

Saya: Bengong.

Makanan kedua datang: Martabak dan kuah kari. Teh Panas.

Saya: Bengong lagi. Paling tidak 1 pesanan benar. :-P

Kami: Makan sambil kikik kikik….

Sarapan di Warung India Muslim

Jarak antara Halte Monorail dan Kl Sentral sekitar 200 meter. Mungkin kalau bangunan diantaranya sudah jadi (masih di bangun), Halte Monorail jalur F akan ada satu komplek di KL Sentral. Coba nanti liat 4 bulan lagi. :-)

Setelah sarapan, kami lanjut masuk ke KL Sentral, Blok M nya KL. Kami ke pusat informasi, nanya transportasi ke Genting Highland.

Saya: Bas ke Genting Highland? (Bus dalam bahasa malaysia: ‘Bas’. Tulisan: ‘Bas’ juga)

Petugas: was wes wos,.. sambil nunjuk ke eskalator atas.

Kami pun ke sana. Sampai atas bingung. Celingak celinguk, ngider ngider. Akhirnya tanya sama OB, dia nunjuk ke belakang kanan. :-P

Warung Muslim India

KL Sentral – Genting Highland = 9RM/orang. Include Sky Way (kereta gantung).

Dan kami pun menuju ke bawah, ngantri bus. Macam di Indonesia, kami buru-buru mau naik, berdesakan. Padahal tuh tiket udah ada nomer tempat duduk dan jam berangkat bus. Bus ontime, 9.15 punya kami. Kami salah naik di bus yang berangkat jam 9.00. Malu deh. Turun lagi.

Nunggu bentar. Jam di bus 09.16, bus pun berangkat.

Jalannya tolnya bagus, lebih lebar dari jalan tol jkt. Mungkin karena masih pagi, jadi gak macet. Berkelok-kelok, macam mau ke Puncak kalau di Jakarta, atau ke Kaliurang kalau di Jogjakarta. Dingin, lupa bawa jaket… Brr,..

Kami sampai di stasiun Sky Way Cable Cars alias kereta gantung. Jaraknya 3,5 KM. Lumayan ngeri awal berangkatnya. Tinggi banget kalau liat ke bawah, hutan pula. Dingin. Mantap dah. :-)

Cable Cars, Genting Highland

Uademe puol,.. brrr,…. sampai dekat puncak, banyak suara orang utan. Tapi gak kelihatan satu pun. Dari jauh terlihat gedung di puncak. Keren. Dingin. Mantap.. terpikir oleh saya bagaimana cara ngangkut materialnya ke sana. Ternyata sampai atas baru saya tahu, ada jalan raya sampai atas. Kami menggunakan bus dari terminal bus di puncak untuk pulang nantinya.

Di Genting, saya sempatkan foto di Warnet yang ada disitu. Cyber World, Cyber Time. Mirip-mirip kan dengan Cyber Media dan Cyber Net. :-D

Warnet & Game Net di Genting Highland

Luas juga tempat wisata ini. Memang gak seluas Ancol, karena berbentuk bangunan/gedung di puncak bukit.

Kami beli tiket terusan outdoor. 62RM/orang. Mirip lah sama ancol. :-)

Ada berbagai jenis Roller Coster disini. Kami cuma berani coba Cyclone, roller coaster yang agak kecil, tapi serem juga. Setelah makan siang, kami mencoba Komidi Putar lalu Flying Dragon. Antrinya yang bikin males.

Semakin sore, udara semakin dingin. Kabut mulai turun. Dari atas kami lihat ada terminal bus. Kami berencana naik itu untuk pulang ke KL.

Kaki sudah mau lepas, capek sekali. Mungkin karena kami tidak biasa berjalan kaki. Sewaktu naik tangga Flying Dragon, nafas kami agak berat. Entah pengaruh udara, atau pengaruh ngos-ngosan. Agak jarang ada tangga naik yang tidak pakai eskalator di KL.

Out Door Game di Genting

Setelah Flying Dragon, kami coba sepeda air. Kalau yang ini umum, malah mirip dengan yang di kebun binatang Bon Bin Jogja.

Lumayan olah raga buat buang lemak2 di kaki. Sayang jari saya yang lebih satu suka nyangkut, jadi bentar2 aja ikut ngayuhnya…. :-P

Setelah capek, kami pun pulang. Beli tiket di Terminal Bus disitu. Genting Highland-Halte Titiwangsa = 6RM/orang. Busnya bagus-bagus kalau tidak bisa di bilang baru. Lagi-lagi on time. Pelayanannya benar2 bagus.

Rekreasi sambil olah raga :-P

Sampai Halte Titiwangsa, kami naik monorail ke Bukit Bintang. Saya lupa harganya. Sekitar 2 Ringgit kayaknya. Sampai di Bukit Bintang, hari dah sore. Kami sempatkan mencari titipan. Setelah itu makan sore, lalu pulang ke hotel.

Ditulis pada Uncategorized | 5 Komentar

Karimun Jawa

Sebenarnya ada lumayan banyak tempat yang sudah saya kunjungi. Lumayan dibanding orang rumahan maksudnya,.. hehe,… tp saya akan coba menulis mengenai tempat saya berbulan madu dahulu.

Karimun Jawa terletak di utara pantai Jepara, Jawa Tengah. Untuk mencapai tempat ini, saya berangkat dari bandara Sepinggan, Balikpapan menuju bandara Adi Sucipto, Jogjakarta. Anda bisa menggunakan jasa angkutan travel, maupun bus antar kota. Jika anda ingin menggunakan jasa travel, anda bisa pergi ke jalan mangkubumi, disana ada berderet-deret agen travel. Namun kalau tidak salah, hanya ada satu yang berangkat ke Jepara pada jam 17.00 sore. Jika anda tidak sabar seperti saya, anda bisa pergi ke terminal Giwangan, untuk menggunakan jasa angkutan Bus Antar Kota.

Dari Giwangan Jogjakarta, kita menuju ke Semarang dahulu. Berikut saya tampilkan peta Jawa Tengah yang saya ambil dari suatu situs…

Peta Jawa Tengah

Sampai terminal Semarang, kita pindah Bus menuju Jepara. Harga tiket saat itu, bulan Oktober 2010 adalah Rp. 12.000 per orang (Jogja-Smrg), Rp. 17.500 (Smrg-Jepara).

Sampai ke terminal Jepara, kita menuju Pantai Kartini / Pelabuhan Kartini. Kapal Ferry Muria berangkat setiap jam 08.00 pagi pada hari Senin, Rabu, Sabtu. Ada penginapan murah di pantai ini selagi anda menunggu jadwal kapal berangkat seandainya anda tiba tidak sesuai jadwal kapal. Saya berangkat jam 14.00 dari Giwangan Jogja, sampai Semarang jam 18.00. Sampai Jepara jam 01.00. Sangat capek. Cocok memang ada Penginapan di Pantai Kartini, hingga kita bisa beristirahat setelah capek dalam perjalanan menuju kemari. Harga kamar termurah Rp. 60.000,-

Penginapan Kota Baru di Pantai Kartini

Dari Pantai Kartini, KM Muria Berangkat jam 08.00. Merapat di Pelabuhan Karimun Jam 14.00. Lama perjalanan 6 jam. Harga tiket Rp. 63.000,-/orang untuk kelas Bisnis, dan VIP Rp. 83.000,-/orang. Anda bisa membawa sepeda motor, mobil, bahkan truk untuk naik ke kapal ini. :-D

Pantai/Pelabuhan Karimun

Sampai di pulau ini, rasa capek langsung hilang. Pemandangan alamnya yang masih asri dan bersih bener-bener bikin fresh. Kami pun langsung mencari penginapan. Dari pelabuhan ini, menurut info yang kami dapatkan di Hotel Kota Baru, jalan terus, lurus sampai mentok di perempatan ke 2 belok kiri ada masjid. Disana banyak penginapan. Ternyata lumayan capek jalannya. Sebaiknya anda menggunakan jasa becak di pelabuhan kalau tiba disini.

Kali pertama, kami menginap di losmen milik pemda Jepara. Pulau Karimun termasuk dalam wilayah kabupaten Jepara. Harga kamar Rp. 100.000,- per malam. Listrik hanya hidup di pulau ini dari jam 18.00 sampai jam 06.000. Selebihnya mati lampu. Bener-bener harus berwisata mengelilingi pulau ini, atau anda akan merasa bosan karena cuma bolak-balik ke warung dan kamar. :-D

Sayang foto penginapan ini kabur, jadi tidak kami upload. Kami menginap disini 2 malam. Dari petugas losmen kami dapat informasi mengenai sewa kapal untuk snorkling, guide, alat-alat snorkling. Harga sewa kapal Rp. 300.000,- dari pagi sampai sore. Itu sudah termasuk bahan bakar dan supirnya. Supir kapal=nahkoda/kapten ya?… alat-alat snorkling Rp. 25.000,-/orang. Guide 75.000,-. Tugas dari guide ini adalah mengajari kami snorkling, menunjukkan titik2 snorkling, menemani selama snorkling, dan mencari ikan sekaligus membakarnya untuk makan siang. Mantap kan?… Tp kita harus tetap membawa bekal nasi, sayur, dan sambal. Anda bisa membelinya di warus terbesar dan teramai di Karimun. Ini kalau gak bisa di bilang warung satu-satunya di Karimun. :-P

Rumah Makan Bu Ester

Rumah makan ini cukup lengkap menunya. Harganya pun terjangkau. Warteg lah kalau di kota namanya. Menurut salah seorang penumpang kapal, warung ini adalah tempat bertemunya para pelancong. Benar saja, karena memang disini tempat makan mereka.

Setelah bekal siap, kita berangkat. Ada beberapa pulau yang kita lewati sambil menuju spot untuk snorkling petama. Airnya sangat jernih, maklum kepulauan Karimun terletak di Laut Jawa yang lumayan luas. Berbeda dengan pantai Balikpapan yang banyak sampahnya. Ikan-ikan dan karang terlihat dari permukaan.

Jernih

Sekitar 1 jam, kami sampai ke titik snorkling pertama. Disini kami belajar menggunakan alat-alat snorkling dan pelampung. Cukup capek kalau tidak biasa berenang jika tidak menggunakan life jacket. Air laut sering tertelan dan tersedak karena tidak terbiasa menggunakan alat snorkling. Cukup 10 menit, kami sudah terbiasa dan berputar-putar di sekitar kapal. Pemandangannya lumayan indah. Banyak ikan-ikan kecil yang biasa kami lihat di akuarium. Mereka sangat jinak. Awak kapal mengumpan mereka dengan biskuit sehingga mereka mendekat dan sangat ramai.

Snorkling

Belajar snorkling cukup melelahkan dan membuat perut kembung karena tertelan air laut. Tenggorokan rasanya perih karena pengaruh garam. Akhirnya kami naik ke kapal, dan menuju suatu pulau untuk makan siang.

Di pulau ini, hanya ada 1 rumah, yaitu rumah penjaga pulau. Mendekati pulau ini, sang guide langsung terjun dan menyelam membawa tombaknya untuk mencari ikan.

Kami sampai terlebih dahulu dan bersantai-santai sambil bermain di pantai yang bersih. Pasirnya putih. Saya mengejar anak ikan pari, tapi terlalu cepat. Juga menemukan ‘bantal laut’. Cukup aneh, dan baru pertama saya lihat. Entah itu termasuk binatang atau tumbuhan.

Ikan hasil tangkapan

Tidak lama guide datang membawa ikan hasil tangkapannya. Berhubung guidenya pemalu, saya yg jadi modelnya. :-D

Awak kapal langsung membersihkan perut ikan dan sisiknya, kemudian di bakar di pembakaran yang sudah di persiapkan sebelumnya ketika menunggu guide mencari ikan. Benar-benar serasa pemilik pulau dan raja. Kami cukup bermain-main menunggu ikannya matang dan disiapkan.

Guide membakar ikan

Sementara itu, istri penjaga pulau membuatkan kami minuman. Saya pesan kopi. Hmmm,… wangi sekali kopinya, dan tak lama ikan pun matang siap di santap.

Makaaaannnnnn!!!! Nyam nyam....

Benar-benar puas. Setelah makan, kami beristirahat sebentar menikmati semilir angin laut. Di tambah pemandangan yang indah, wow,…. pernah anda bayangkan? kami pun belum pernah membayangkannya. Tapi ini terjadi. Alhamdulillah,…

Setelah beristirahat, kami pun melanjutkan perjalanan ke titik snorkling kedua. Agak sulit kapal keluar dari pulau ini karena air mulau surut dan banyak karang di bawahnya. Kalau agak terlambat pergi, mungkin kami harus menginap di pulau ini.

Dititik snorkling kedua, pemandangan bawah lautnya lebih mantap dari titik pertama. Sayang saya belum punya kamera bawah air. Mungkin di perjalanan berikutnya saya bisa ambil beberapa foto bawah laut. Di titik kedua, semakin jauh saya snorkling, semakin indah dan dalam. Ikannya semakin dalam semakin besar. Disana sana saya menjumpai ikan pari berukuran agak besar. Saya agak takut, untung di temani guide yang berani menjamin keselamatan kami.

Saya ada bertanya begini ketika sebelum berangkat tadi pagi, ‘Bagaimana kalau ada ikan hiu nanti?’

Guide: Gak apa-apa mas, ikan hiu itu gak berani dengan manusia.

Saya: Ah, masa sih? kok di tv ada yang di gigit ikan hiu.

Guide: (Mungkin malas berpanjang-panjang) nanti saya yang pertama digigit deh mas kalau gitu.

Saya: Senyum aja.

***

Pasir putih dan laut yang jernih

Hari lumayan cerah. Padahal bulan-bulan ini sudah masuk musin penghujan. Kalau hujan, kapal tidak berani berangkat. Perhitungkan cuaca jika anda ingin berlibur ke karimun.

Setelah snorkling di spot kedua, kami memutuskan langsung pulang. Guide menawarkan ke titik ketiga, tapi kami sudah capek. Angin laut dan kelelahan membuat saya tertidur pada perjalanan pulang di atas kapal.

Dalam perjalanan kami mampir ke pulau penangkaran ikan hiu. Untuk parkir kapal kami membayar Rp. 5000,-.

Hiu-hiu kecil di penangkaran

Kalau di Balikpapan, ada penangkaran buaya. Di sekitar situ terdapat rumah makan yang menyajikan menu utama daging buaya, misalnya SATE BUAYA, TANGKUR BUAYA. Sayangnya disini gak ada menu SATE HIU. Atau IKAN BAKAR HIU.

Di penangkaran ikan hiu, anda bisa berenang bersama ikan-ikan hiu yang masih kecil. Tenang saja, ikan-ikan hiu ini jinak semua, bahkan terkesan takut dengan manusia. Mungkin mereka tau, kalau macam-macam, bisa berakhir di penggorengan…

Selesai melihat-lihat anak-anak hiu, kami pun pulang ke pulau Karimun. Badan capek semua, langsung tancap menuju losmen dan mandi. Setelah itu menyelesaikan adminstrasi kapal tadi, dan makan ke warung terbesar di karimun!.

Cukup 2 hari kami merasakan losmen yang di sediakan pemda Jepara. Selesai makan, kami pun berkeliling mencari penginapan lain yang lebih murah. Dan dapat. Rp. 70.000,- per malam. kami pesan 2 malam agar sesuai dengan jadwal keberangkatan ferry.

Home Stay Mulya Indah

Home Stay ini beralamatkan:

Home Stay Mulya Indah, Jl. Pemuda RT. 01… (mungkin gak ada rt/rwnya disini ya?…) Nomer Telp: 0297-312106. HP: 081326344987

Jika anda berminat menginap di rumah ini, tanya saja dengan abang becak di pelabuhan, pasti langsung di antarkan kemari. Maklum, Kota Karimun (kami sebut kota karena daerah sekitar pelabuhan terkesan seperti kota mini) tidak besar, pasti orang-orang penghuni sini saling kenal satu sama lain.

Masih tersisa 2 hari, besok kami berencana mengelilingi pulau menggunakan sepeda motor yang kami sewa di losmen Pemda Jepara. Biaya: Rp. 70.000,-/hari.

Ditulis pada Uncategorized | 1 Komentar