Alhamdulillah, dapat rejeki lagi untuk jalan-jalan. Kali ini ke Kuala Lumpur, Malaysia. Kami memanfaatkan tiket murah dari Air Asia. Air Asia memang mantap, dengan bandara LCCT dan pesawat-pesawat yang lebih bagus dan baru.

Low Cost Carrier Terminal (LCCT)
Kami berangkat dari bandara Sepinggan, Balikpapan. Sekitar jam 14.00 pesawat take off.
Kami beli tiket secara online di http://www.airasia.com 2 bulan sebelumnya. Kami dapat harga Rp. 95.000,- per orang. Murah bukan?… Lebih murah dari pada ke Jakarta. Memang harus di perhitungkan biaya lain-lain di sana seperti transportasi, penginapan, makan, dll. Tapi tetep saja kurang lebih sama dengan jalan-jalan di Indonesia. Dengan cara ini, Malaysia menjadi lebih terbuka untuk masyarakat internasional.

Bukit Bintang dari gerbong Monorail.
Pun selama disana, saya baru tau, kalau ini adalah kota internasional. Berbagai suku bangsa ada disini. Berbagai warna kulit. Jumlahnya mungkin sama banyak, antara orang India, China, Jepang, Melayu, Afrika, Arab, Bule Barat. Kalau di gerbong monorail, merata. Dengan warna kulit dan bahasa yang berbeda.
Dari LCCT, kami menuju KL Sentral. Kalau di Jakarta, Blok M. Pusat semua transportasi di Kuala Lumpur. Kami naik Sky Bus, milik Air Asia. Beli tiketnya include waktu beli tiket pesawatnya online. Bisa juga beli di kounter Sky Bus. Harga tiket: 9RM/orang.
Dari KL Sentral, kami menuju penginapan di Bukit Bintang menggunakan Monorail. KL Sentral-Bukit Bintang = 2,10 RM. Sekitar Rp. 6.000 lah kalau di Indonesia. Sampai Bukit Bintang, kami makan dulu. Laper. Ternyata tidak ada tempat makan yang menyediakan nasi putih. Di KFC pun tersedia hanya nasi lemak, alias nasi uduk. Harga, mirip dengan di Indonesia.

Bukit Bintang
Lanjut ke hotel. Taruh tas, mandi, istirahat sebentar, lalu jalan lagi.
Bukit bintang mirip dengan jalan Malioboro di Jogjakarta, atau jalan Legian di Denpasar.
Dari ujung jalan terlihat puncak menara Petronas. Kami pun menuju kesana. Cukup jauh kalau berjalan kaki. Capek sekali rasanya, hanya berpatokan ujung menara kami cari jalan menuju kesana.
Sampai disana, saya kagum. Bangunannya seperti terbuat dari logam. Lampu-lampunya terus menyala, mungkin sepanjang malam.Saya kesulitan mencari spot foto supaya seluruh bangunan menara terlihat. Akhirnya cuma bisa foto dari bawah ke atas. Jalan keseberang jalan pun tak nampak keseluruhan di kamera. Kameranya kamera saku sih…

Menara Kembar Petronas
Rata-rata toko disini tertulis buka 24 jam. Bahkan layar besar di jalan Bukit Bintang shut down jam 7 pagi. Anak muda tidur di emperan toko setelah begadang semalaman di situ. Mungkin cuma malam minggu. Tapi malam sebelumnya saya tengok ke bawah dari jendela hotel juga masih ramai sampai subuh.
Setelah capek mencari titik spot tak kunjung ketemu, kami pun berniat pulang ke hotel. Tapi kaki sudah mau lepas, capek minta ampun. Terpaksa naik taksi. 7 RM ke Bukit Bintang. Pantes kata orang kalau lebih dari 3 orang, mending naik taksi dari pada naik monorail.
Kami pulang ke hotel, istirahat, supaya besok bisa bangun pagi-pagi. Rencana kami mau ke Genting Highland. Dengar-dengar mirip Ancol, tapi di area puncak gunung.

Petunjuk Arah
Kami bangun jam 6 pagi. Masih gelap. Macam jam 5 kalau di Balikpapan. Jam 7 baru sama dengan jam 6. Tapi jamnya sama dengan Balikpapan, alias tidak ada perbedaan waktu.
Kami berangkat menuju halte monorail. Monorail ini kalau di Jakarta sama dengan Trans Jakarta, sama-sama transportasi umum utama. Tidak macet, dan tidak awut-awutan. Lewat atas jadi tambah cepat karena potong jalan. Halte dan keretanya bersih. Tangga naik pakai eskalator jadi gak capek. Jarang satpam or polisi, tandanya aman dan disiplin. Meski gitu, masih ada tanda peringatan ‘Awas Copet’ dalam bahasa malaysia. Nunggu keretanya tidak lama, mungkin cuma 5 menit sekali ada kereta datang.
Tepat jam 06.00 kereta berangkat. Alias on Time. Tadi di bawah juga beli tiket tertib. Murah cuma 2,10 RM ke KL Sentral dari Bukit Bintang. Cuma ada 1 satpam. Tugasnya mungkin cuma ngajarkan cara pakai kartu buat yang katrok kayak saya..

Kereta Monorail
Sampai KL Sentral kami sarapan dulu di Warung India Muslim. Saya lihat ada orang india makan nasi pakai telur ceplok dan teh panas. Saya pesen yang sama, pelayannya wajah India.
Saya: Pesen Nasi pakai telur dua, minumnya teh panas dua!.
Pelayan: Dua? Okay…
Makanan pertama datang: Nasi Goreng dan teh tarik.
Saya: Bengong.
Makanan kedua datang: Martabak dan kuah kari. Teh Panas.
Saya: Bengong lagi. Paling tidak 1 pesanan benar.
Kami: Makan sambil kikik kikik….

Sarapan di Warung India Muslim
Jarak antara Halte Monorail dan Kl Sentral sekitar 200 meter. Mungkin kalau bangunan diantaranya sudah jadi (masih di bangun), Halte Monorail jalur F akan ada satu komplek di KL Sentral. Coba nanti liat 4 bulan lagi.
Setelah sarapan, kami lanjut masuk ke KL Sentral, Blok M nya KL. Kami ke pusat informasi, nanya transportasi ke Genting Highland.
Saya: Bas ke Genting Highland? (Bus dalam bahasa malaysia: ‘Bas’. Tulisan: ‘Bas’ juga)
Petugas: was wes wos,.. sambil nunjuk ke eskalator atas.
Kami pun ke sana. Sampai atas bingung. Celingak celinguk, ngider ngider. Akhirnya tanya sama OB, dia nunjuk ke belakang kanan.

Warung Muslim India
KL Sentral – Genting Highland = 9RM/orang. Include Sky Way (kereta gantung).
Dan kami pun menuju ke bawah, ngantri bus. Macam di Indonesia, kami buru-buru mau naik, berdesakan. Padahal tuh tiket udah ada nomer tempat duduk dan jam berangkat bus. Bus ontime, 9.15 punya kami. Kami salah naik di bus yang berangkat jam 9.00. Malu deh. Turun lagi.
Nunggu bentar. Jam di bus 09.16, bus pun berangkat.
Jalannya tolnya bagus, lebih lebar dari jalan tol jkt. Mungkin karena masih pagi, jadi gak macet. Berkelok-kelok, macam mau ke Puncak kalau di Jakarta, atau ke Kaliurang kalau di Jogjakarta. Dingin, lupa bawa jaket… Brr,..
Kami sampai di stasiun Sky Way Cable Cars alias kereta gantung. Jaraknya 3,5 KM. Lumayan ngeri awal berangkatnya. Tinggi banget kalau liat ke bawah, hutan pula. Dingin. Mantap dah.

Cable Cars, Genting Highland
Uademe puol,.. brrr,…. sampai dekat puncak, banyak suara orang utan. Tapi gak kelihatan satu pun. Dari jauh terlihat gedung di puncak. Keren. Dingin. Mantap.. terpikir oleh saya bagaimana cara ngangkut materialnya ke sana. Ternyata sampai atas baru saya tahu, ada jalan raya sampai atas. Kami menggunakan bus dari terminal bus di puncak untuk pulang nantinya.
Di Genting, saya sempatkan foto di Warnet yang ada disitu. Cyber World, Cyber Time. Mirip-mirip kan dengan Cyber Media dan Cyber Net.

Warnet & Game Net di Genting Highland
Luas juga tempat wisata ini. Memang gak seluas Ancol, karena berbentuk bangunan/gedung di puncak bukit.
Kami beli tiket terusan outdoor. 62RM/orang. Mirip lah sama ancol.
Ada berbagai jenis Roller Coster disini. Kami cuma berani coba Cyclone, roller coaster yang agak kecil, tapi serem juga. Setelah makan siang, kami mencoba Komidi Putar lalu Flying Dragon. Antrinya yang bikin males.
Semakin sore, udara semakin dingin. Kabut mulai turun. Dari atas kami lihat ada terminal bus. Kami berencana naik itu untuk pulang ke KL.
Kaki sudah mau lepas, capek sekali. Mungkin karena kami tidak biasa berjalan kaki. Sewaktu naik tangga Flying Dragon, nafas kami agak berat. Entah pengaruh udara, atau pengaruh ngos-ngosan. Agak jarang ada tangga naik yang tidak pakai eskalator di KL.

Out Door Game di Genting
Setelah Flying Dragon, kami coba sepeda air. Kalau yang ini umum, malah mirip dengan yang di kebun binatang Bon Bin Jogja.
Lumayan olah raga buat buang lemak2 di kaki. Sayang jari saya yang lebih satu suka nyangkut, jadi bentar2 aja ikut ngayuhnya….
Setelah capek, kami pun pulang. Beli tiket di Terminal Bus disitu. Genting Highland-Halte Titiwangsa = 6RM/orang. Busnya bagus-bagus kalau tidak bisa di bilang baru. Lagi-lagi on time. Pelayanannya benar2 bagus.

Rekreasi sambil olah raga
Sampai Halte Titiwangsa, kami naik monorail ke Bukit Bintang. Saya lupa harganya. Sekitar 2 Ringgit kayaknya. Sampai di Bukit Bintang, hari dah sore. Kami sempatkan mencari titipan. Setelah itu makan sore, lalu pulang ke hotel.